Kamis, 18 Agustus 2011

Keserasian Dalam Keberagaman

Keselarasan Dalam Keberagaman atau dalam bahasa Inggris bisa disebut Harmony in Diversity. Keselarasan berarti keserasian, keharmonisan, atau kesinambungan. Sedangkan keberagaman berarti terdiri dari beberapa ragam yang berbeda. Jadi, keselarasan dalam keberagaman berarti keserasian yang tercipta dari suku, bangsa, ras, negara, pandangan politik, ideologi, ataupun agama yang berbeda satu sama lain namun tetap bersatu dalam suatu kedamaian. Bahkan sangat memungkinkan untuk terjadinya suatu perpaduan antar budaya yang berbeda (akulturasi budaya) yang bisa melahirkan kebudayaan baru. Dan menambah daftar warisan budaya di dunia yang pada akhirnya tercipta suatu perdamaian serta kerjasama antar unsur yang menyatukan diri di dalamnya.
Harmony in Diversity merupakan moto atau semboyan dari Pengenalan Kehidupan Kampus FIB (Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Brawijaya 2011. Karena program studi pada fakultas tersebut terdiri dari berbagai bahasa dan budaya dari beberapa negara di dunia, tentu saja termasuk negara kita tercinta Indonesia. Mulai dari Sastra Indonesia dan Pendidikan Bahasa Indonesia, Sastra Inggris dan Pendidikan Bahasa Inggris, Sastra Perancis, Sastra Jepang dan Pendidikan Bahasa Jepang, dan lain sebagainya.
Untuk pembagian kelompok pun peserta juga dibagi kedalam beberapa zona yang terdiri dari berbagai negara. Misalnya, zona Asia seperti China, Jepang, Korea, India, dan Malaysia. Tentu dari beberapa negara tersebut walaupun termasuk kedalam satu zona tetapi memiliki cirri khas kebudayaan masing-masing. Contohnya Jepang yang terkenal dengan kimononya, tetapi India tentu saja memiliki pakaian khas negaranya sendiri. Hal ini membuktikan bahwa di tiap negara, kebudayaan pun berbeda. Tetapi hal tersebut tidak menimbulkan konflik antar negara, justru kerjasama bilateral ataupun multilateral semakin meningkat. Di Indonesia sendiri, tiap suku pasti memiliki kebudayaan masing-masing yang berbeda dengan suku yang lain. Namun NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) tetap satu. Sesuai dengan semboyan negara kita “Bhinneka Tunggal Ika”.
Namun sebagai bangsa yang berbudaya, kita juga harus selektif dalam menerima budaya baru yang berasal dari luar. Entah itu luar kelompok ataupun luar negeri. Misalnya budaya luar negeri yang memakai baju terlalu minim, padahal budaya tersebut kurang cocok bagi kebudayaan kita. Maka kita tidak boleh meniru budaya yang demikian. Agar tidak terjadi kesenjangan budaya (cultural lag) dan kegoncangan budaya (cultural shock) yang pastinya akan merugikan diri kita sendiri.
Maka dari itu, kita sebagai manusia Indonesia yang merdeka berbudaya, harus benar-benar mengerti arti dari sebuah keberagaman. Ingatlah semboyan “Bersatu dalam budaya kita teguh, bercerai kita runtuh”.